Nduga Satu Gelar Diskusi "Nduga Dalam Persimpangan Jalan" Bahas arah Pembangunan dan Masa Depan Nduga
Otis Tabuni, S.H.MH
Nduga, Singaduputih.com || Gelar Diskusi menjelaskan bahwa menculnya ide atas diskusi dengan judul Nduga Dalam Persimpangan Jalan merupakan hasil renungan panjang seakan setiap persoalan di Nduga dan pemerintahan Nduga tidak pernah hidup tanpa masalah. Menurutnya, berbagai Masalah yang muncul belum sama sekali memberi titik akhir. Ketika satu persoalan belum selesai muncul masalah yang baru hingga seterusnya seakan kehidupan di Nduga badan tanpa Roh.
Sejak tahun 2018-2026 Kabupaten Nduga menghadapi berbagai tantangan kompleks yang mencakup berbagai sektor kehidupan, antara lain:
1. Keamanan dan Konflik Sosial, Nduga sering kali menjadi sorotan terkait isu keamanan dan ketidakstabilan sosial-politik yang berdampak pada keselamatan warga sipil, memicu trauma psikologis, hingga pengungsian warga ke daerah-daerah sekitar.
2.Pemerimtahan dan pelayanan pemerintah yang tidak berjalan efektif atau boleh dikatakan fakum serta angka kebutuhan anggaran lebih tinggi dari pada ketersediaan anggaran menimbulkan krisis moneter
3. Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi, tingkat perekonomian masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor tradisional menghadapi hambatan akibat sulitnya akses pasar, minimnya lapangan kerja, serta tingginya biaya hidup.
4. Layanan Dasar (Pendidikan dan Kesehatan) tidak maximal. Kualitas dan keterjangkauan fasilitas pendidikan serta kesehatan di Nduga masih tertinggal dibandingkan wilayah lain, ditandai dengan minimnya tenaga medis dan pengajar yang bertugas secara permanen di lapangan.
5. Pengungsi Internal yang terjadi sejak 2018-2026 belum diurus secara baik dan benar
6. Kiriminal kota (pencurian, Pembaobolan dan lainnya)
Poin-pin diatas mendorong diskusi intens guna memastikan dan mengevaluasi sejauh mana pelayanan pemerintah berjalan dan apa saja problemnya.
Selanjutnya olen Pdt Moses Lokbere, S.Th menyampaikan poin-poin yang menyentuh akar sosiologis dan kultural yang sangat mendalam terkait krisis di Nduga. Nduga Dulu Aman, Nduga Sekarang Tidak Aman.
Hal ini kemudian melahirkan kebencian sesama dan sulit memulihkan hingga konflik demi konflik terus terjadi dan menyebabkan dendam dan kebencian berakar di kalangan masayarakat dan sulit mengendalikannya.
Moses menyoroti agar ada Vitamin pemulihan Nduga dengan mekanisme pemimpin harus menemukan cara dan jalan keluarnya. Jika konflik telah merusak tatanan kekeluargaan (kerabat) masyarakat Nduga, maka "vitamin" pemulihannya tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan fisik (security approach) dan bicara saja melainkan membutuhkan terapi kultural, spiritual, dan structural yang musti oleh pemimpin.
Perlu mengaktifkan kembali pranata adat sebagai ruang penyelesaian sikat (restorative justice cara lokal). Ketika hubungan kekeluargaan runtuh, pemulihannya harus dimulai dari meja-meja perdamaian adat yang melibatkan berbagai pihak dan pemerintah full memfasilitasi. Langkah yang tepat sesuai visi misi DIYO terkait dengan rekonsiliasi sosial.
Selanjutnya Bapak Saulus Pokneangge memberikan isu kontemporer terutama kaitannya dengan persoalan SDM dan Bantuan studi tahunan yang kadang di lapangan salah gunakan dengan memberikan contoh kasus kejadian di Timika atas bantuan studi Mahasiswa Nduga di Timika tahun 2026. Persoalan-persoalan ini terjadi sejak awal dan sulit dikendalikan, maka membutuhkan peran berbagia pihak untuk memperbaiki cara-cara yang tak benar sehingga bantuan bisa tepat sasaran guna menunjang studi setiap Mahasiswa Nduga se Indonesia.
Disisi lain seperti kota Timika ini, Mahasiswa Nduga bagaikan mayat-mayat hidup yang pada saat ada masalah di kabupaten Nduga peran aktif Mahasiswa Nduga di Timika ini sama sekali tidak ada tetapi saat bantuan studi ternyata ada mahasiswa Nduga. Hal lainnya Adalah pengiriman data mahasiswa secara diam-daim di duga main keluarga lalu saat membagi memanggil dan datang ke rumah oknum tertentu untuk menerima dalam bentuk amblop
Hal ini menunjukan ada kecurigaan penyelagunaan dana bantuan studi di kota Mimika. Persoalan lain yang berdampak pada Mahasiswa Nduga Adalah sbb:
1. Tragedi Hilangnya Generasi Transisi (The Lost Generation)
Bahwa Kota studi seharusnya menjadi kawah candradimuka tempat lahirnya kaum intelektual, pemimpin masa depan, dan teknokrat Nduga. Namun, akibat konflik berkepanjangan di tanah kelahiran, mahasiswa terbebani secara psikologis (trauma keluarga), kesulitan finansial (kiriman terputus akibat ekonomi kampung lumpuh), hingga terpecah belah oleh arus politisasi. Akibatnya, potensi mereka "mati suri" sebelum berkembang.
2. Urgensi Gerakan Kolektif Intelektual dan Gereja
Kaum intelektual, mahasiswa, dan pemuka agama tidak boleh tinggal diam atau ikut larut dalam kubu-kubu konflik. Peran strategis mereka saat ini adalah menjadi "jembatan informasi yang objektif" dan "parlemen moral". Intelektual Nduga di perantauan harus mengorganisir diri untuk memikirkan program pemulihan sumber daya manusia (beasiswa darurat, pendampingan trauma psikologis anak-anak pengungsi, dan advokasi sosial) alih-alih membiarkan generasi muda terjerumus dalam keputusasaan.
Alih-alih dimaksud tidak lain adalah pemangku kepentingan di Nduga, pemerintah kabupaten Nduga sebagai refresentatif pemerintah pusat dan pihak- pihak lain yang memiliki kewenangan agar pengungsi dan traumatisme berkepanjangan musti di selesaikan
Dalam diskusi lanjutan, Bapak One Gwijangge menyampaikan pandangan umum dengan memberikan perumpamaan bahwa Alkitab pernah mencatat dalam sebuah perjalanan yang diisi oleh banyak penasehat akan sukses perjalanannya tetapi sedikit penasehat akan menghadapi banyak masalah dan gagal
Dalam ilustrasi ini menegaskan bahwa suatu organisasi harus ada ahli-ahli penasehat yang mengendalikan dan mengontrol sehingga tidak ada persoalan dan kegagalan. Hal yang sama disampaikan bahwa anak panah kalau tanpa diluruskan terus akan bengkok dan tidak baik tetapi kalau di luruskan terus menerus akan terus bagus dan dipergunakan dengan baik. Artinya kalau banyak persoalan kalau tidak dilakukan langkah-langkah perbaikan secara berlahan, maka yang ada hanya masalah diatas masalah dan tidak akan ada langkah penyelesaian hingga adanya kehancuran.
Departemen Pemuda Kingmi kordinator Kabupaten Nduga Pdt Sipe Kelnea, S.Pd.k memberikan pendapat kaitan dengan kendala - kendala di lapangan dalam membangun upaya -uapaya kebersamaan secara gerejawi maupun organisasi lainnya. Setiap agenda seperti diskusi, seminar dan KKR atau ibadah, banyak orang terutama di kalangan muda tidak tertarik untuk menghadiri atau ikuti kegiatan dalam jumlah yang banyak.
Hal ini kemudian kami kendala dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kebersamaan, meghilangan pikiran-pikiran negatif sesama dan menciptakan keutuan secara bersama. Ia sampaikan usulan pentingnya seminar tentang Pengungsi sehingga memastikan nasib pengunggsi. Seminar Pengungsi ini kami pernah memohon ke pemerintah sehingga ada tindak lanjut. Hal ini penting karena melalui seminar tentang Pengungsi kita bisa menemukan segala persoalan yang dihadapi oleh pengunsi.
Usulan lainnya adalah perlu adanya seminar atau diskusi publik di ruang terbuka yang dihadiri oleh berbagai pihak yang ada di Wamena, Jayapura, Timika dan lainnya di Kenyam guna mengadakan kegiatan-kegiatan diskusi dan seminar yang membangun dan mempersatukan kita. Untuk menuntaskan semua masalah itu diawali dengan diskusi, seminar dan KKR sehingga pemulihan itu terjadi secara berlahan. Kalau dibiarkan terus menerus akan terjadi suatu masalah yang tertanam secara berlahan bahkan saling benci sesama akan menjadi budaya di kalangan Masyarakat Nduga.
Diskusi ini singgung juga proses pemerintahan yang tidak begitu responsive, terjadikan kevakuman agenda pemerintahan baik eksekutif maupun legislative. Bahkan diduga lebih mengurusi masalah posisi wakil bupati dibanding menjalankan pelayanan pemerintahan sebagaimana mestinya.
Di ketahui sudah 17 bulan atau 1 tahun 6 bulan perjalanan pemerintahan DIYO di kabupaten Nduga tidak terlihat dan tidak berhasil mengejarkan agenda pemerintah, membuat kebijakan menyelesaikan berbagai probelum bahkan rekonsiliasi sosial dan perdamaian Nduga saja sudah tidak berhasil. Harusnya rekonsiliasi menjadi agenda 100 hari kerja, bukan agenda pemerintah karena agena rekonsiliasi bukan program pemerintah yang direkomendasikan sesuai dengan konsep RPJMN dan RPJMD yang amanatkan melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Artinya konsep rekonsiliasli berpotensi gagal dan kalau terpaksa dilaksanakan, maka akan terjadi penyalagunaan anggaran sebab ia bukan bagian dari program RPJMD.
Dapat diketahui Visi Pemerintahan saat ini menurut sumber media adalah Mewujudkan Kabupaten Nduga yang Aman, Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat melalui percepatan pembangunan berbasis keadilan sosial serta pemulihan tatanan kehidupan masyarakat di segala bidang. Upaya mewujudkannya musti melakukan langkah-langkah responsive.
Sedangkangkan misi pemerintahan DIYO Adalah Untuk mencapai visi tersebut, misi yang dijalankan meliputi, Melakukan rekonsiliasi sosial dan Membuka akses dan kesempatan yang adil serta setara bagi semua warga terhadap. Turunan lainnya Adalah Struktur pemerintahan dan manajemen ASN yang baik, Pemerintahan yang bersih (good governance), Sektor pendidikan.. Sektor kesehatan. Kepemudaan dan olahraga. Lapangan pekerjaan dan ekonomi kerakyatan dan Infrastruktur dasar serta sumber daya lainnya.
Berdasarkan hasil diskusi publik bertajuk Nduga Dalam Persimpangan Jalan (Ngobrol Bareng Soal Masa Depan Nduga)" serta menimbang berbagai kompleksitas masalah yang dihadapi (mulai dari krisis keamanan, kevakuman pemerintahan, persoalan pengungsi 2018–2026, krisis SDM/mahasiswa, hingga ancaman pudarnya tatanan kultural), berikut adalah rumusan rekomendasi komprehensif bagi masing-masing pemangku kepentingan:
1. Untuk Pemerintah Kabupaten Nduga (Eksekutif dan Legislatif)*
a. Mengakhiri Kevakuman, melakukan langkah reformasi birokrasi
pemerintahan & Fokuskan pada Pelayanan Publik
b. Penyelesaian Isu Pengungsi Internal, menjadikan penanganan dan persoalan pengungsi internal (yang terlantar sejak 2018–2026) sebagai prioritas utama kebijakan daerah dengan mengalokasikan perhatian dan anggaran yang terukur
c. Fokus Pembangunan SDM sebagai langkah strategis pememrintah Nduga secara konsisten dan berkelanjutan.
2. Untuk Denominasi Gereja
a. Gereja harus konsisten mengambil peran sebagai jembatan perdamaian yang netral, tidak ikut terpecah ke dalam kubu-kubu politik atau kelompok konflik
b. Inisiasi KKR dan Seminar Pemulihan Trauma. Menggalakkan program-program pemulihan psikososial, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), serta seminar tematik secara berkala
c. Membangun Kesadaran Kolektif Pemuda, Mengaktifkan kembali ruang-ruang persekutuan pemuda dan kaum muda gereja untuk merajut kembali rasa kebersamaan serta mengikis budaya kebencian yang mengakar.
3. Untuk TNI dan Polri
a. Pendekatan Humanis & Keamanan yang Terukur serta menarik pasukan non organic dari Nduga,
b. Mendukung dan Memberikan ruang dan jaminan keamanan bagi setiap warga Nduga dari kecurigaanm, ancaman dan rasa takut bagi Masyarakat
c. Bersinergi dengan dan kolabirasi dengan pemerintah daerah, Legislative, pimpinan gereja dan LMA guna menjaga perdamaian dan kedamaian
Demkian hasil diskusi dan rekomendasi sementara berdasarkan berbagai pembahasan yang telah kami lakukan via google Meet yang dimulai jam 18: -21:00 Waktu Indonesia Timur.
Catatan Tambahan
Group WhatsApp Nduga Satu terdorong untuk mentransformasikan ruang komunikasi digital menjadi wadah intelektual yang inklusif. Diskusi melalui Zoom atau Google Meet dihadirkan sebagai jembatan alternatif agar setiap anak bangsa asal Nduga, para intelektual, mahasiswa, tokoh adat, pemuka agama, hingga pemerhati dapat membahas masalah bersama secara virtual. Ruang terbuka ini sengaja diciptakan agar semua pihak bebas bersuara, bertukar gagasan secara objektif, dan merumuskan solusi nyata demi memutus rantai masalah, memulihkan tatanan sosial, serta mengawal masa depan Nduga ke arah yang lebih bermartabat, damai, dan sejahtera.
Gagasan ini tidak lahir begitu saja tanpa alasan yang mendasar. Di tengah berbagai tantangan kompleks yang melanda Kabupaten Nduga mulai dari krisis keamanan, kevakuman roda pemerintahan, persoalan pengungsi internal yang belum terselesaikan, hingga ancaman mundurnya masa depan generasi muda ruang dialog fisik seringkali terbatas oleh jarak, birokrasi, dan situasi keamanan yang tidak menentu.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya ruang diskusi sebagai wadah untuk bertukar gagasan, mencari solusi, serta merumuskan langkah-langkah strategis bagi masa depan Kabupaten Nduga. Diskusi ini diharapkan dapat menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, kaum intelektual, dan generasi muda dalam membangun Nduga yang lebih baik.
Ndugama, 28 Juli 2026
Reporter Inggi Kogoya